Categories

Archives

Peluru vs Plat Baja (1)


Skenario
Simulasi peluru menghantam dua plat baja yang dipasang terpisah.
Sudut impact peluru adalah tegak lurus pada plat baja, dengan kecepatan 200 m/s dan 400 m/s. Model peluru dibuat berdasarkan pada data peluru tipe 5.56×45 mm NATO,  seperti diinformasikan oleh Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/5.56×45mm_NATO). Ini adalah peluru jenis standar untuk militer Amerika, dan awalnya dipasang pada senapan M16. Tebal plat baja adalah 4 mm. Jarak antara dua plat baja adalah 11 mm seperti yang ditunjukkan oleh Gbr.1

Perhitungan dilakukan dengan software LS-DYNA ver.971, sebuah kode Finite Element Method untuk masalah-masalah non-linear.

Material Data

Material peluru dimodelkan sebagai gabungan dari logam tembaga (copper alloy) dan timbal (lead, Pb). Pada peluru sebenarnya, jaket peluru terbuat dari tembaga dan intinya terbuat dari timbal. Untuk simplifikasi model, pada perhitungan ini untuk Yield Stress dan Young Modulus diambil dari sifat tembaga, sementara massa jenis dan poisson ratio, dari sifat timbal. Untuk plat baja, karakteristik material adalah baja berkekuatan tinggi (high tensile strength steel) biasa.

Model material untuk peluru dan plat baja adalah bi-linear model seperti pada Gbr.2. Dengan model ini, fase plastisitas dan pengerasan (workhardening) turut diperhitungkan. Akan tetapi untuk menghemat waktu penghitungan, efek dari strain rate dan kenaikan temperatur diabaikan.

Dalam simulasi ini dipakai metode erosion. Erosion adalah salah satu cara untuk memodelkan “kerusakan”.
Yaitu dengan menon-aktifkan elemen yang sudah mencapai failure strain. Dengan opsi ini, ikatan antar nodes (bisa dianggap ikatan particle-to-particle), diputus. Opsi ini memungkinkan visualisasi fenomena seperti material putus, penyok, hancur lebur, dan sebagainya.

Detail material adalah seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Material Peluru dan Plat

Karakteristik (satuan)

Peluru

Plat

Yield stress (GPa)

1.0

1.5

Young Modulus (GPa)

110

208

Workhardening gradient (GPa)

5

3

Failure strain Fs (-)

2.0

0.3

Poisson’s ratio (-)

0.44

0.28

Density (kg/mm3)

4 gr weight

7.82e-6

Kondisi Tumbukan

Dalam simulasi ini kondisi peluru saat menumbuk plat baja diperlihatkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kecepatan dan Rotasi Peluru Saat Tumbukan

Kasus

Kecepatan

Rotasi

Strike1

200 m/s

0

Strike2

400 m/s

0

Strike3

400 m/s

180,000 rpm

Parameter pada Software LSDYNA

LSDYNA contact: *ERODING_SINGLE_SURFACE
Material type: *MAT_PLASTIC_KINEMATIC

Waktu simulasi: approx.50minutes (Core 2 Duo, @2.66GHz)

———————————————————————–
Hasil Simulasi:

Strike 1.
Pada kecepatan ini, peluru tidak sampai menembus armor, tapi cukup melubanginya sampai lebih dari setengah kedalaman.

strike1

Strike1. V=200m/s, no rotation

Lihat video:

Strike 2.
Peluru menembus plat baja pertama, penetrasi pada plat baja kedua sampai kira-kira 3/4 tebal plat.

Strike2. V=400m/s, no rotation

Strike2. V=400m/s, no rotation

Lihat video:strike2_xvid

Strike 3.
Peluru menembus plat pertama, berhenti pada plat kedua.
Pengaruh rotasi peluru menyebabkan plat kedua pun terlubangi, karena ada material yang terlempar disebabkan stress wave yang intensitasnya tinggi (spalling).

strike3

Lihat video:

**copyright Simulasi-Teknik.**
www.simulasi-teknik.com

Credits:
LSDYNA is a FEM explicit code owned by LSTC (many thanks to Dr.John Hallquist, President of LSTC)